Artikel

"Kekuatan Bahasa Indonesia dalam Membangun Karakter Bangsa"

Oleh : Fitri Analis M.Si, M.Pd SMP Muhammadiyah Pabuaran Bogor

            Indonesia yang dikenal dengan beragam suku dan budaya, memperkaya  khasana Bahasa Indonesia. Kita tidak bisa menutup  diri dari perkembangaan  bahasa yang semakin memaksa untuk terus mempertahankan tatanan kebahasaan  dari gejala kesalahan berbahasa. Kesalahan bahasa yang semakin memprihatinkan pada kalangan generasi muda menjadi tugas kita bersama sebagai pemerhati, agar generasi muda tidak melupakan tatanan bahasa yang baik dalam membangun karakter budaya bangsa.

Ragam Bahasa Lisan dan Tulisan 
        Ragam bahasa menurut Bachman (1990) merupakan variasi bahasa menurut pemakainya, yang berbeda beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicaraan, kawan bicara, orang yang dibicarakan  menurut medium pembicaraan.
Dalam kaidah kebahasaan kita sering mengenal ragam bahasa lisan dan bahasa tulisan.
         
        Bahasa lisan merupakan bahasa langsung dari penuturnya, merupakan bunyi bahasa dalam rentetan suara. Kata kata yang keluar dalam bentuk kalimat cenderung tanpa jeda. Sedangkan Bahasa tulisan  merupakan bahasa yang ditulis dengan ejaan dan aturan kebahasaan  yang sesuai dengan Kamus Besar bahasa Indonesia. Dalam kaidah kebahasaaan tidak semata mata terfokus pada ragam lisan dan tulisan. Ejaan atau tutur merupakan bagian peting dalam memindahkan bahasa lisan dalam bentuk tulisan dan menyusun dalam bentuk tatanan kebakuan berbahasa, Ragam bahasa penutur ini bisa dilihat dari ragam dialek yang digunakan , pendidikan dan etika bahasa penutur. Karena Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang mepengaruhi penggunaan bahasa maka dialek penuturpun tidak telepas dari ragam bahasa yang digunakannya. 

Pengaruh Bahasa Prokem terhadap Bahasa Indonesia 
            Pengguanaan bahasa prokem yang kian menjalar pada generasi muda semakin memprihatinkan . Ini merupakan tantangan bagi pemerhati dan penggiat bahasa dalam mensosialisasikan dan meluruskan kembali praktik baik  berbahasa pada kalangan generasi muda, khususnya pelajar dan mahasiswa yang menjadi penjadi ujung tombak pelestarian bahasa di negeri ini. 

         Bahasa Prokem merupakan ragam Bahasa Indonesia yang tidak ada di dalam kamus Besar bahasa Indonesia. Awalnya digunakan di Jakarta tahun 70 an, Sering disebut dengan bahasa gaul. Menurut Hartman dan Stork (1972) mengemukanan bahasa prokem  sebagai satu ujaran yang dicirikan dengan kosa kata yang baru ditemukan dan cepat berubah , dipakai kaula muda atau kelompok kelompok social untuk berkomuikasi dalam kelompoknya .

      Bahasa Prokem merupakan salah satu bentuk penyimpangan dari  Bahasa Indonesia dalam pergaulan anak anak remaja yang awalnya  merupakan bahasa rahasia menjadi bahasa yang tidak baik dan cenderung mempunyai kesan negarif.
Hal ini sangat memprihatinkan karena dampaknya untuk generasi muda dan pelajar, mereka tidak menghargai bahasa sebagai alat pemersatu dan alat komunikasi yang baik.

     Penggunaan bahasa yang menyimpang dari tatanan bahasa Indonesia ini mengakibatkan  penutur kalangan remaja  kesulitan menggunakan bahasa Indonesia secara benar dan mengundang perilaku yang tidak menunjukkan karakter sebagai bangsa yang berbudaya atau tidak sesuai dengan etika bahasa. Bahasa prokem yang berubah menjadi bahasa gaul keseharian penutur remaja melanggar norma kesopanan karena bahasa yang digunakan dengan yang lebih tua pun terkadang  cenderung bermakna negatif. Kita tidak ingin Bahasa Indonesia yang sudah diperjuangan oleh generasi terdahulu pelan pelan tergerus oleh bahasa gaul yang menghancurkan karakter bangsa ini.

Pentingnya Bahasa Indonesia 
            Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting untuk mengetahui apa yang disampaikan seseorang kepada lawan bicaranya. Bahasa juga yang bisa menjadi alat pemersatu bangsa yang merupakan kekuatan setiap negara termasuk Indonesia. 
Penggunaan bahasa yang baik tidak selalu baku akan tetapi bisa dipahami dan dimengerti lawan bicara atau yang disebut penutur.  Ragam bahasa  yang tepat bagi penuturnya menjadi bagian  penting dalam barbahasa. Baik itu penutur daerah ataupun penutur asing. 

            Sekilas tentang sejarah bahasa Indonesia yang dilansir dari situs Kemendikbud bahasa Indonesia lahir 28 oktober 1928 yang dikrarkan dalam Sumpah pemuda. Ikrar yang ke tiga berbunyi berbahasa satu bahasa Indonesia. Kemudian dijadikan sebagai bahasa Nasional dan bahasa resmi kenegaraan. Cikal bahasa Indonesia adalah bahasa melayu yang sudah dipakai sejak abad ke 7 dalam hubungan dan perdagangan, bahasa melayu pengatar dalam keseharian penutur baik di nusantara maupun di asia tenggara. Pakar Bahasa melayu, James Collin dalam ‘Bahasa Melayu Bahasa Dunia : Sejarah Singkat (2011). 

        Dalam perkembangan Bahasa sangat dipengaruhi oleh kebudayaan, segala hal yang ada dalam kebudayaan akan tercermin melalui bahasa. Karena cara berfikir manusia dan masyarakat penuturnya tergambar dalam bahasa dan mengasilkan sebuah budaya bagi penuturnya. Menurut Koentjaningrat yang dikutip Abdul Chaer dan Leopnie dalam bukunya Sosiolonguistik mengatakan bahasa bagian dari kebudayaan. Hubungan bahasa dan kebudayaan adalah hubungan subordinatif dimana bahasa berada dibawah lingkup kebudayaan. Bila ditinjau dari Bahasa Indonesia dengan susastranya menghasilkan ragam kebudayaan dan tatana budaya yang menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia dalam bermasyarakat. Untuk itu melalui Bahasa dan sastra kita dapat membangun budaya bangsa.

        Keberagaman budaya daerah  yang sangat kaya merupakan aset bangsa yang harus dilestarikan. Arus globalisasi yang menjadi tantangan generasi dalam pengembangan budaya, bukan sesuatu momok  menakut untuk membangun budaya bangsa ke arah yang lebih baik. Jhon Naisbitt dalam bukunya Global Paradox mengemukakan pokok pikirannya yang berhubungan dengan budaya yaitu semakin kita universal maka tindakan kita semakin kesukuan . “Berfikir lokal bertindak global”. Ini bisa dijadikan acuan untuk membangun budaya bangsa meskipun pandangan global kita harus berfikir local.

            Dunia komunikasi global yang semakin mempermudah kita untuk menampilkan ragam budaya yang dikemas dalam bahasa dan sastra modern dari beragam daerah menjadi sebuah kekayaan tersendiri yang harus dilakukan. Dengan bahasa Indonesia berbagai susastra produktif sastrawan muda, geliat budaya seharusnya semakin terlihat. Melalui bahasa dan susastra kebinekaan bias ditamipilkan dalam karya seni. Bahasa merupakan alat kontrol sosial yang digunakan untuk mengontrol kegiatan keseharian ataupun secara resmi dalam kebangsaan dan berkebudayaan. 

Pelestarian Bahasa melalui Ragam Budaya 
                   Berdasarkan data saat  ini  bahasa Indonesia sudah sudah dipakai  di 8 Negara sebagai bahasa pengantar pendidikan diantaranya Kanada, Jepang, Australia, Korea selatan, Ukraina, Vietnam. Hawaii dan Suriname. Sangat disayangkan, karena kurangnya pemahaman generasi muda tentang pentingnya melestarikan budaya melalui pemanfaatan bahasa dan sastra, sehingga  bahasa dan  kebudayaan yang kita miliki semakin  terkikis oleh kemajuan teknologi dan globalisasi. Ini merupakan tantangan bagi kita penggiat bahasa Generasi saat ini lebih senang menggunakan bahasa prokem atau bahasa gaul disbanding bahasa Indonesia , begitu juga dengan budaya. Banyak kebudayaan barat yang diadopsi dan dianggap modern. 

          Seharusnya keragaman budaya yang berbeda itu dapat dapat menyatukan bangsa  melalui  bahasa Indonesia yang kita gunakan. Baik itu dalam hasil unsur-unsur kebudayaan maupun perwujudan kebudayaan . Upacara Ngaben, upacara tongkonan, karapan sapi dan Larungan merupakan wujud kebudayaan yang sangat diminati turis asing dan domestik. Kalau dikemas dengan bahasa dan sastra yang baik dalam bentuk karya sangat akan menarik, menjadikan hasil budaya yang menjanjikan. Keragaman budaya bangsa bisa kita aplikasikan dalam kegiatan literasi. Menuliskan  dalam bentuk buku baik buku sastra, puisi syair ataupun dalam bentuk ilmiah pada jurnal penelitian dan hasil pengamatan. 

                Begitu banyak yang dapat kita ambil dari pemnfaatan bahasa sansatra dalam memperkenalkan budaya bangsa yang kiat memprihatinkan ini. Kegiatan seni dan budaya yang dipentaskan dalam keragaman bahasa dan sastra apapun bisa dijadikan alat untuk membangun karakter bangsa ini. Cerita rakyat, adat istiadat dan kesenian dari berbagai daerah mengandung makna yang sangat dalam untuk menyampaikan karakter budaya bangsa. Seperti cerita Malin Kundang, Tangkuban Perahu dan banyak yang lainnya sarat dengan pesan dengan makna atau symbol. 

            Adat istiadat yang kita sebut dengan norma merupakan perilaku keseharian bangsa Indonesia yang tatanannya sudah teratur dalam cerminasn kebudayaan masing masing daerah. Begitu juga dengan tatanan dan etika kebudayaan masing masing daerah yang menjadikan bahasa Indonesia kaya dengan keragaman Budayanya.

Karakter Bangsa dalam Bahasa
     Bahasa yang digunakan penuturnya merupakan  cerminan kepribadian seseorang.  Mengapa tokoh masyarakat dan Alim ulama serta guru sangat dihormati?
Apa yang disampaikan mereka mengunakan bahasa yang santun mempengaruhi orang yang mendengarnya. Meskipun tatanan bahasa tersebut sekarang banyak bergeser. 

                Bahasa mencerminkan bangsa. Ini terlihat dari asal mulanya bahasa Indonesia dari beberapa unsur bahasa daerah yang dijadikan bahasa Indonesia. Bahasa melayu yang menjadi bahasa pengantar perdagangan pada zaman dahulu mencerminkan bagaimana bangsa Indonesia di mata dunia .   

         Perilaku dan karakter seseorang terlihat dari ujaran atau tutur bahasanya. Menurut Effendi (2009: 75) Cara berfikir seseorang tercermin dalam bahasa yang digunakannya.  Kita dapat melihat dari tutur ujaran yang dimiliki bangsa Indonesia dari berbagai ragam budaya dengan tatanan bahasa yang penuh dengan unggah ungguh dalam bahasa jawa, welas asih dan ereng gendeang dalam bahasa minang . Dalam Bahasa Melayu disebut tatakrama dan sopan santun dalam berbahasa. 

Mengembalikan Fitrah bahasa Indonesia dalam karakter Bangsa
            Begitu besarnya peranan bahasa dalam penanaman karater bangsa tugas kita sebagai pendidik dan perhati  bahsa sangatlah berat bila tidak dimulai dari yang kecil. 
Hal-hal yang seharusnya dapat  dilakukan diantaranya: 
  1. Membawa kembali rasa kecintaan generasi muda diantaranya pelajar dan mahasiswa untuk menggunakan bahas Indonesia baik dalam forum resmi ataupun tidak resmi.
  2. Memberi pemahaman untuk dapat memperkecil penggunaan bahasa prokem dan pelan pelan bisa dihilangkan dalam keseharian karena akan berpengaruh pada etika bertutur.
  3. Menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa Pengantar Pendidikan dengan mengembalikan bahasa Indonesia pada Fitrah kebahasaan berharap Bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa dunia yang diperhitungkan keberadaannya.
C:\Users\Fitri Analis\Pictures\foto.jpg

BIODATA PENULIS
              Fitri Analis M.Pd, M.Si sering dipanggil Pipit Jambak , lahir di Jakarta 23 agustus 1968. Menamatkan sekolah dasar SDN 59,  SMPN 1 dan SMA 1, dan D3 di IKIP Padang. Selagi muda sering menulis Esay dan Cerpen di Koran Kampus Ganto Minang,Media daerah Haluan dan Singgalang.

            Menulis beberapa buku Antologi Puisi. Pendidikan S1. UT Jakarta, Pendidikan S2 Manajemen pendidikan  di STIE YAPPAN dan  S2  Pendidikan Bahasa Indonesia  di UNINDRA .Pernah mengajar di SMAN 1 Lubuk Alung SUMBAR, Hijrah ke Jakarta Pernah mengajar di Kardiovasculer UHAMKA, dan dari 2011 sampai sekarang menjadi dosen di Universitas Borobudur Jakarta dan Akademi Kebidanan CITAMA.Dari 2003. menjadi guru tetap di SMP Muhammdiyah Pabuaran Bogor.

---------------------------------

"Implementation of Character Education and Understanding of Ethical Reflection at Muthmainnatul Qulub Al Islami Islamic Boarding School"





Oleh : Ii Rahmanudin, M.Pd.
SMP Muthmainnal Qulub

Dikutip dari Majalah Inspirasi Pendidikan Volume 5, Nomor 1, Maret 2025

UUD RI No 20 Tahun 2003 pasal 3 telah mengatur Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman juga bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa. 

Berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab.” Maka tujuan bangsa untuk mencerdaskan masyarakat tidak hanya dalam aspek akademik saja, melainkan juga spiritual atau kaitannya dengan karakter.

Selain dalam pendidikan karakter, dalam pembelajaranbahasa Arab juga tentunya seorang pendidik harus memperhatikan pemahaman refleksi etis siswa. Artinya refleksi etis ini dapat menjadikan filosofis pendidikan akan orientasinya pada kemanfaatan etis yang transformatif dan emansipatoris baik itu individu maupun bagi struktur sosial, dimana anak didik hidup.

Sehingga mereka menyimpulkan bahwa untuk apa belajar bahasa Arab jika tidak diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Padahal sebenarnya di dalam pondok pesantren ada tahapannya untuk bisa mewujudkan Pendidikan karakter yang disertai refleksi etis. Bahkan pimpinan pondok pesantren juga sudah sangat sering memberikan nasehat terkait itu semua.

Implementasi Pendidikan Karakter dan Refleksi Etis dalam pembelajaran Bahasa Arab

Kemudian kurikulum yang di kembangkan di pondok pesantren Muthmainnatul Qulub Al Islami menggunakan kurikulum yang mengembangkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 
Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam pertama olah hati (spiritual and emotional development). Kedua olah pikir (intellectual development) ketiga olah raga dan kinestetik (physical and kinesthetic development). Dan olah rasa (affective dan creativity). Keempat ini tidak bisa dipisahkan dan saling melengkapi dan berkaitan.

Pendidikan Karakter memang harus ditanamkan dalam proses pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran bahasa Arab. Tujuannya ialah untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan serta hasil pendidikan yang mengarah kepada sebuah pencapaian besar terhadap akhlak mulia peserta didik secara utuh, seimbang, dan sesuai dengan kompetensi tujuan yang ingin dicapai.

Sehingga menjadikan anak tidak hanya berpikir untuk kebaikan dirinya secara personal saja, tetapi juga mampu memberikan solusi etis yang strukturalis bagi kebaikan dan kebajikan kehidupan masyarakatnya (Muhmidayeli, 2013). Dengan demikian, perlu adanya perhatian terhadap refleksi etis ini kepada siswa supaya siswa dapat memahami feedback apa yang akan diberikan kepada masyarakat kelak. 

Salah satu contohnya bisa ditemukan di Pondok Pesantren Muthmainnatul Qulub Al Islami Cibinong Bogor. Pondok Pesantren Muthmainnatul Qulub Al Islami Cibinong Bogor merupakan pondok Pesantren yang unggul dalam pengaplikasian suatu pelajaran ke dalam kehidupan masyarakat, karena program dengan sistem modern yang digabungkan dengan salafi membuat tuntutan masyarakat dapat terpenuhi (Hasil wawancara dengan Kepala Sekolah Ustadz Furqon S.Pd.I.).

Salah satunya pembelajaran bahasa Arab yang merupakan pelajaran berkaitan dengan kehidupan masyarakat dari aspek konteks. Namun, tentu masih banyak siswa yang belum bisa mengamalkannya. Tidak hanya itu, hasil wawancara dengan salah satu Wali Santri juga menyatakan bahwa kemanfaatan belajar bahasa Arab santri tidak dapat dibuktikan hal itu disebabkan santri belum mampu berdzikir, berkhutbah bahasa Arab.

Dari data kegiatan santri Pondok Pesantren Muthmainnatul Qulub Al Islami dapat dilihat dari diagram bahwa pendidikan karakter lebih banyak dibangun dengan kegiatan olah dzikir (sholat fardu, sholawat, dll), kemudian dilanjutkan dengan olah pikir (Muhadarah, Muhadasah bahasa), dan diikuti oleh olah raga dan olah rasa (Hadrah, Kesenian dll).

Semuanya saling berkesinambungan dan Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Bahasa Arab dapat dilihat dari penggunaan bahasa Arab dalam setiap kegiatan. Contohnya kegiatan Pramuka, pemimpin upacara menggunakan bahasa Arab dalam proses berbaris. 

Dalam kajian kitab kuning dan muhadarah atau pidato juga berbahasa Arab, bahkan saat olahraga juga menggunakan bahasa Arab. Sebuah peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak terlepas hubungannya dengan falsafah hidup dan kepribadian masing-masing. 

Artinya filsafat dimaknai sebagai kepribadian jati diri dan pandangan hidup seseorang, masyarakat atau bangsa. Oleh karena itu implementasi pemahaman refleksi etis di Pondok Pesantren Muthmainnatul Qulub Al Islami terdapat pada acara nasihat dari pimpinan, pada acara Taujihat pimpinan pondok pesantren, dalam acara selamatan dan syukuran atas selesaikan kajian kitab.

Misalnya dalam sambutannya pimpinan KH Turhami Toha, LC. mengungkapkan bahwa tujuan nyantri ke pondok pesantren Mq Al Islami ini adalah untuk kembali ke masyarakat, ada yang jadi kiai, khatib, penceramah, ada yang jadi guru, dokter, petani, pegawai, dan lain sebagainya, tapi tetap harus berdakwah. Tidak harus jadi kiai yang penting bermanfaat bagi masyarakat.

Jadi Kesimpulannya, Pondok Pesantren Muthmainnatul Qulub Al Islami sudah mengimplementasikan Pendidikan karakter dalam pembelajaran bahasa Arab melalui berbagai kegiatan dalam bentuk kegiatan Ekstrakurikuler dan Intrakurikuler, sehingga penanaman karakter santri sudah baik namun masih perlu dievaluasi dalam meningkatkan karakter siswa yang kurang baik.

Disisi lain penerapan refleksi etis sudah juga ditanamkan oleh pimpinan pondok pesantren dalam pengajian ataupun dalam kajian rapat bersama asatidz asatidzah serta santri, Sehingga mereka sudah paham bahwa apa yang seharusnya mereka lakukan dan kerjakan ketika terjun di masyarakat.***
---------------------------------

"INTERNET AND COMPUTER SAFETY"





Oleh : Hj. Iswatun Khoiriyah, M.Pd.
Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor

Dikutip dari Majalah Inspirasi Pendidikan Volume 4, Nomor 1, Mei 2024

Many parents are worried about letting their child use the internet. Here are some tips to help your child use computers and the internet safely.


Talk to your child about the sites, applications and internet-enabled devices they use. It is important that they understand that you are there to talk to and help if they see something they don’t like online or have any problems.

  1. Keep your computer in a family room or an open space where you can watch what your child is doing. This way you can control who they are taking to and how long your child is on the computer. If they use mobile devices, give them limits on what they can and can’t do when they are not with you. When possible, check that they are not pushing these limits.

  2. It is important that you limit the amount of time your child spends online and ask them to take regular breaks. Spending a long time on the computer may cause headaches, eyestrain or other physical problems. Their online life should be part of a varied and healthy lifestyle.


  3. Make sure that your child does not give personal information such as their name, date of birth, address, or telephone number to people they don’t know and trust in the real world. These people are strangers and might not use their information in the best way.

  4. Make sure that your child does not post any photos or videos of himself/herself online that they wouldn’t be happy to show you. They can be copied and used in other spaces online without their permission.

  5. Make sure that your child asks your permission before entering any competitions, clicking on links from people they don’t know or downloading any materials. Doing so may cause viruses or a hacking opportunity.

  6. Make sure that your child keeps their internet passwords a secret. Their passwords will reveal a lot of personal information about them which they would not want other people to have.

  7. Teach your child not to make arrangements to meet anyone that they have met online. Ask your child to tell you immediately if somebody is asking them to meet in real life.

  8. Write a list of rules and guidelines for using the computer and internet. Show them to your child, and make sure your child understands why there are rules. Stick them up next to the computer as a reminder.
I hope the tips will be useful for you. See you next time

(Disadur dari http://learnenglishkids.britishcouncil.org)

---------------------------------

"LITERASI BABAK BARU"





Oleh : Dr. Wulan Widaningsih, M.Pd.
Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor

Dikutip dari Majalah Inspirasi Pendidikan Volume 4, Nomor 1, Mei 2024

Sebagian orang mungkin bertanya, apa makna literasi sebenarnya? Pertanyaan itu muncul karena kata “literasi” begitu bergemuruh dan bergaung dimana-mana dan menjadi anjuran dan tema-tema penting yang harus diperbincangkan dalam konsep dasar setara pembentukan karakter atau pembiasaan.

Dari bab-bab sebelumnya penulis pun telah memaparkan tentang ini, namun yang sekarang hangat diperbincangkan adalah drama terbaru dari konsep literasi yang sesungguhnya. Literasi adalah kemampuan berpikir seseorang dalam kehidupan yang secara sistematis dan seobjektif mungkin memahami dan memecahkan masalah yang dapat dihadapinya.

Kita dapat mencegah mengambil kesimpulan yang salah dengan usaha memperhatikan argumen-argumen logis yang terkait dengan detail, sesuai dengan struktur yang jelas ataupun prinsip prinsip yang benar yang mendasarinya. 

Literasi adalah berpikir dengan telah mengesampingkan egoisme dan pemikiran subjektif atau paradoks mengenai suatu hal. Memang pembiasaan ini memerlukan tingkat keberanian, moral, dan komitmen untuk dapat diterapkan. Seperti halnya kejujuran, tidak pilih kasih atau berorintasi pada penyelesaian masalah. Sebagian orang bisa saja bertanya, apakah Literasi tingkat tinggi itu sama halnya dengan Berpikir Kritis. Ya, itulah yang menjadi sasaran perbincangan kita kali ini. 

Jadi Literasi adalah wahana yang lebih luas dari sekadar konsep membaca dan menulis. Literasi sudah menjadi pola dalam pemikiran manusia dimana bertindak sesuatu sesuai dengan asumsi-asumsi (dimana didalamnya terdapat sistem sosial berkenaan dengan persolan), dan terjadi secara terus menerus, sehingga kontek persoalan dapat dipahami dengan baik. 

IA kan membuka file-filenya dari berbagai sumber sehingga terkumpul asumsi positif dan bahkan produktif, bahkan melibatkan kreatifitas dan imajinatif. Hal tersebut juga bisa disandingkan dengan penggunaan struktur intelektual yang tepat, sehingga dalam menghadapi masalah dapat ditempatkan sesuai proporsinya. 

Tapi nilai pengalaman batin juga penting, karena tidak semuanya dapat diselaikan secara rasional pula, ada mata batin yang berbicara. Biasanya itu berhubungan dengan kepercayaan dan falsafah, sehingga seseorang dapat yakin dan kuat dalam menapaki atau menyelesaikan jalan hidupnya.

Penjabaran diatas seakan mengawang-awang. Namun itulah konsep sebenarnya literasi babak baru. Seni berpikir yang dapat dikendalikan dengan kedalam ilmu dan pengalaman membaca serta menulis seseorang. Proses berpikir seorang literat akan memenuhi standar intelektual yang baik, senantiasa memiliki elemen penalaran dan prilaku intelek yang saling berhubungan. 

Standar intelektual yang dimaksud seperti kejelasan, ketelitian, relevansi, kelogisan, keluasan, ketepatan, signifikan, kelengkapan, kejujuran, dan kedalaman berpikir. Adapun elemen penalaran yang selalu hadir pada seorang literat adalah memahami tujuan atau target, mengawali dengan pertanyaan, sangat informatif, memiliki sudut pandang positif, mengawali dengan asumsi dan konsep serta mampu melakukan kesimpulan dan merancang implikasinya.

Perilaku Inteletual yang mendukung seorang literat berupa memiliki integritas, kerendahan hati, keadilan, keuletan, obyektivitas, penalaran, keberanian, empati dan mandiri. Dari ciri tersebut menunjuan bahwa berpikir intelek adalah bagian dari proses literasi, dimana kegiatan otak secara potensial dapat dikomunikasikan atau diekspresikan dalam bentuk ucapan atau tulisan yang baik. 

Dapat mengelola input berupa apa yang didengar, diamati, dan dibaca. Menjadi produk output berupa ucapan, tindakan, dan tulisan. Jadi tulisan kita adalah cermin intelektual seseorang dari kesadaran pengetahuan dan ungkapan bathin, serta ide dasar seseorang.

Penulis memiliki pemikiran, bukan hanya tulisan yang menjadi ukuran seorang literat, tetapi kemampuan menyelesaikan masalah, mampu berkomunikasi positif, berinteraksi sosial yang handal, serta dapat berpikir kritis merupakan bentuk kegiatan literasi juga. 

Karena berawal dari berpikirlah kita dapat mengembangkan ide dan konsep yang benar, yang akan terefleksi pada kepercayaan dan perilaku seseorang. Dengan kemampuan ini, maka kepercayaan diri dan kemandirian akan meningkat, penuh kreatifitas dan inovatif, tingkat emosial akan stabil, optimisme dan karakter positif akan muncul, serta memiliki kemampuan menyelesaikan masalah. Dan bukan hal yang tidak mungkin kesejahteraan suatu bangsa dapat meningkat.***

---------------------------------

"MANFAAT MICROSITE UNTUK GURU, KEPALA SEKOLAH, DAN PENGAWAS"





Oleh : Yoyoh Rohayati, M.Pd.
Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor

Dikutip dari Majalah Inspirasi Pendidikan Volume 5, Nomor 1, Maret 2025

Di era digital sekarang ini banyak sekali aplikasi-aplikasi yang mempermudah pekerjaan kita sehingga menjadi lebih efisien. Sebagai insan yang bergerak di bidang pendidikan seperti guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah, ada banyak aplikasi yang dapat digunakan untuk mempermudah pekerjaan. 

Aplikasi pembelajaran yang mendorong kegiatan pembelajaran lebih interaktif yang sudah sering digunakan diantaranya quizzies, kahoot. Untuk Manajemen kelas muncul google Classroom yang banyak digunakan ketika masa pandemi covid 19. Kalau kita ingin membuat konten pembelajaran ada Canva yang banyak digemari oleh pelajar. Untuk asesmen juga sering digunakan google form. Selain aplikasi-aplikasi tersebut banyak aplikasi-aplikasi baru yang lain. Salah satu aplikasi yang menarik yang menurut saya sangat bermanfaat untuk mengelola arus data dan informasi di untuk lingkungan pendidikan khususnya untuk guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah adalah microsite.

Apa itu microsite? apa manfaatnya?, dan bagaimana membuatnya? Saya mengenal aplikasi ini belum lama, beberapa waktu lalu saya mengikuti bimbingan teknis yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pengawas Seluruh Indonesia (APSI). Salah satu materinya adalah tentang microsite. Dari hasil penelusuran ternyata tidak ada pencipta yang spesifik yang menciptakan aplikasi ini.

Aplikasi ini muncul seiring dengan perkembangan teknologi web dan adanya kebutuhan terhadap pemasaran digital, serta didukung oleh perkembangan teknologi web modern menjadikan aplikasi ini semakin populer digunakan. Dan dalam perkembangannya microsite menjadi lebih mudah pembuatannya dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti bisnis, kampanye, dan pendidikan.

Aplikasi microsite adalah adalah sebuah situs web mini yang biasanya terdiri dari satu atau beberapa halaman saja dan dibuat untuk tujuan khusus, seperti kampanye pemasaran, promosi produk, atau pengumpulan data pelanggan. Microsite sering kali berdiri sendiri, terpisah dari situs web utama suatu perusahaan atau organisasi, dan memiliki domain atau subdomain sendiri.

Sebagai pengawas sekolah yang memiliki sekolah binaan yang lumayan banyak, microsite sangat membantu saya dalam mengelola data-data dan informasi sekolah binaan saya. Microsite dapat digunakan oleh saya dalam mengelola data-data baik data personal maupun data-data sekolah binaan yang saya dampingi.

Secara personal microsite dapat digunakan untuk menyimpan portofolio digital, menyimpan berbagai pengalaman, sertifikat, kegiatan pengembangan kompetensi, dan karya-karya. Bagi pengawas sekolah, microsite bermanfaat untuk mempermudah pengelolaan data dan laporan dari sekolah dampingan secara digital sehingga lebih cepat dan efisien.

Microsite juga dapat memberikan kemudahan akses terhadap berbagai informasi terbaru yang harus diketahui oleh sekolah dampingan seperti regulasi-regulasi baru, berbagai petunjuk teknis dan panduan-panduan yang harus diketahui dan dipahami oleh sekolah hanya dengan kita membagikan link microsite kita. 

Dengan menggunakan microsite pengawas juga dapat melaksanakan monitoring dan evaluasi secara efisien dan transparan. Bagi satuan pendidikan, microsite juga dapat digunakan oleh satuan pendidikan untuk mempromosikan sekolah. Alih-alih menggunakan web sekolah yang memiliki banyak fitur yang lebih rumit dan kompleks, microsite menjadi alternatif yang sederhana dan mudah diakses untuk mempromosikan sekolah.

Microsite dapat digunakan oleh sekolah untuk menyediakan informasi-informasi akademik seperti jadwal ujian, penerimaan peserta didik baru, agenda sekolah, prestasi sekolah dan kurikulum. Dan tentu saja penggunaan microsite mendukung digitalisasi sekolah. Bagi guru microsite dapat dimanfaatkan untuk menyimpan data dan sebagai sumber belajar bagi peserta didik karena guru dapat menyebarkan materi, membagikan tugas dan menambah referensi untuk siswa. 

Siswa dapat mengakses sumber belajar dimana saja dan kapan saja. Microsite juga dapat digunakan oleh guru untuk berbagi praktik baik pembelajaran kepada rekan sejawat bahkan dengan komunitas lebih luas. Belajar menggunakan microsite tidak membutuhkan waktu yang lama, fiturnya yang sederhana memudahkan pengguna untuk cepat memahami bagaimana membuat konten pada aplikasi ini.

Berdasarkan pengalaman, untuk memulainya pengguna masuk ke domain s.id dengan menggunakan akun google mail (gmail) yang dimiliki. Anda akan langsung masuk ke halaman landing page. Anda akan Anda akan diminta untuk mengklik manage preference, kemudian login dengan memilih/memasukkan email yang akan digunakan.

Selanjutnya Anda akan diminta memasukkan nama microsite yang akan dibuat dan memasukkan/membuat link microsite tersebut. Nama microsite disesuaikan dengan konten yang akan kita tampilkan. Selanjutnya Anda akan masuk ke beranda microsite, dan anda siap untuk membuat microsite pertama anda.


Banyak pilihan jenis komponen yang dapat dipilih, mulai dari profile, teks, tautan, gambar, maps, link media sosial dan masih banyak lagi yang lainnya. Komponen yang menurut saya paling menarik dan sangat bermanfaat untuk mengelola data adalah komponen tautan karena kita akan bisa menautkan berbagai data dan informasi dari data yang sudah tersimpan di dalam folder google drive kita.

Melalui komponen ini kita juga bisa mencantumkan link beberapa microsite ke dalam salah satu microsite. Sehingga dengan membuka 1 microsite kita bisa masuk ke microsite-microsite yang lain tanpa harus membuka browser baru, bukankah lebih efisien? penasaran dengan aplikasi ini yuk! kita kunjungi domainnya.

Rawan Duplikasi
Aplikasi ini dapat secara gratis kita gunakan atau bisa melakukan upgrade kalau kita mendapatkan layanan yang lebih banyak dan beragam. Sebagai sebuah aplikasi microsite juga memiliki kelemahan. Aplikasi ini tidak cocok untuk memuat informasi yang kompleks, aplikasi ini juga rawan duplikasi konten untuk itu perlu dipertimbangkan beberapa hal seperti konten yang akan dibagi apakah memang bisa dikonsumsi oleh umum atau bersifat terbatas untuk pihak-pihak tertentu saja. 

Kalau untuk umum kita bisa bagikan link microsite kepada siapa saja, tapi kalau konten bersifat khusus cukup bagikan link microsite kepada pihak-pihak yang berkepentingan saja. Kesimpulannya dengan microsite akan sangat membantu kita untuk mengelola data dan informasi, mempermudah akses informasi, meningkatkan efektivitas komunikasi, mempermudah administrasi, dan meningkatkan kolaborasi, selamat mencoba.
---------------------------------

"MENGENAL DEEP LEARNING, STRATEGI BELAJAR BARU DARI MENDIKDASMEN"





Oleh : Dr. Hj. Taty Rahayuningsih, M.Pd.
Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor

Dikutip dari Majalah Inspirasi Pendidikan Volume 5, Nomor 1, Maret 2025

Deep Learning membawa angin segar bagi kurikulum sekolah, menciptakan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan abad ke-21. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tetapi juga mengasah keterampilan analitis, kreativitas, dan kemampuan berkolaborasi. Untuk mengoptimalkan potensi ini, diperlukan dukungan penuh dari seluruh ekosistem pendidikan, termasuk guru, siswa, dan pemangku kebijakan.

Dalam konteks kurikulum sekolah, Deep Learning merujuk pada pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk menggali pengetahuan lebih dalam, berbeda dengan sekadar pembelajaran hafalan. Pendekatan ini berorientasi pada pembelajaran aktif, kolaboratif, dan berkelanjutan. Siswa diajak untuk memahami konteks, menganalisis informasi secara kritis, serta menciptakan solusi inovatif berdasarkan pemahaman konseptual yang kuat, sehingga siswa diharapkan dapat menghubungkan konsep antar mata pelajaran, menggali akar masalah, dan me-mecahkan persoalan dengan pendekatan analitis yang mendalam.

Istilah Deep Learning yang dipakai oleh Mendikdasmen tidak sama dengan istilah Deep Learning yang lazim digunakan dalam ranah Artificial Intelligence (AI). Pendekatan pembelajaran Deep Learning (belajar secara mendalam) adalah kontras dari pendekatan pembelajaran Surface Learning (belajar di permukaan) yang berusaha membahas banyak materi secara luas dengan mengorbankan proses pemahaman dan peningkatan kompetensi dari para peserta didik. Siswa akhirnya hanya terpaksa menghafal banyak hal tanpa dapat memaknai, memiliki, dan menikmati proses pembelajarannya. 

Menurut Mendikdasmen Abdul Mu’ti, pendekatan pembelajaran Deep Learning dapat tercapai melalui 3 elemen utama, yakni Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning. Melalui proses Meaningful Learning, siswa dapat memaknai hal-hal yang sedang ia pelajari. Kemudian, melalui proses Mindful Learning, siswa dapat menjadi agen aktif yang secara sadar berniat untuk mengembangkan pemahaman dan kompetensinya.  Proses Joyful Learning membuat siswa menjadi termotivasi dalam menjalani proses pembelajarannya. Berikut adalah penjelasan singkat terkait tiga elemen utama dalam pembelajaran Deep Learning.

1. Meaningful Learning
Teori Meaningful Learning yang dicetuskan oleh David Ausubel menjelaskan proses pembelajaran dimana guru membantu siswa untuk mengaitkan konsep baru yang akan diajarkan dengan konsep-konsep yang sebelumnya sudah mereka pahami. Proses belajar Meaningful Learning ini bertujuan agar pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa. Misalnya, untuk memperkenalkan penjumlahan pecahan, kita bisa mulai dengan penjumlahan benda-benda yang lebih konkret terlebih dahulu.
Contoh: 2 apel + 2 apel = 4 apel

2. Mindful Learning
Mindful Learning seringkali dikenal sebagai meta-kognisi dalam teori pendidikan. Dalam Mindful Learning, siswa diajak untuk senantiasa sadar akan proses pembelajaran yang sedang siswa jalani. Kesadaran ini terdiri dari beberapa aspek:


Dengan demikian, siswa dituntun untuk menjadi agen aktif yang bertanggung jawab atas proses
pembelajarannya sendiri. 

Contoh:
Guru bisa membiasakan siswa untuk selalu membuat kesimpulan pembelajaran sendiri di akhir sesi pelajaran dan merefleksikan perkembangan pemahaman atau kompetensinya. Melalui proses refleksi ini, siswa dapat memahami kekuatan dan kelemahan mereka masing-masing, serta memiliki target yang lebih jelas untuk pembelajaran berikutnya.

3. Joyful Learning

Joyful Learning menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang positif agar siswa dapat menikmati setiap bagian dari proses pembelajaran. Pendekatan tersebut dapat digunakan guru pada jam Pelajaran terakhir, sehingga siswa tetap fokus karena pembelajaran yang diciptakan menyenangkan, dengan demikian tujuan pembelajaran tercapai dengan baik. Contohnya, pendekatan pembelajaran melalui permainan (game) atau aktivitas interaktif dapat membuat siswa lebih antusias dalam belajar. Hal ini penting untuk mendorong anak-anak agar lebih terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan menikmati pengalaman belajarnya. Terlebih lagi jika dipadukan dengan aspek meaningful dan mindful learning, kita berharap siswa dapat memiliki motivasi intrinsik dalam belajar dan akhirnya menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Manfaat Deep Learning dalam Pembelajaran

Tantangan dalam Implementasi Deep Learning di Sekolah

---------------------------------

"MINDFUL, MEANINGFUL AND JOYFUL LEARNING"





Oleh : Hj. Iswatun Khoeriyah, M.Pd.
Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor

Dikutip dari Majalah Inspirasi Pendidikan Volume 5, Nomor 1, Maret 2025

There are three approaches in building effective and enjoyable learning. The process of learning has to be mindful, meaningful, and joyful. Mindful learning encourages students to focus on the present moment, reduces stress and increases concentration. Meaningful learning emphasizes the connection between the concepts studied and students’ lives. Meanwhile, joyful learning aims to bring a sense of pleasure, motivation and satisfaction 
in the learning process.

Mindful Learning in the Classroom

Mindful learning can be implemented through activities such as breathing exercises, reflection breaks, or journal writing activities that allow students to reflect on their learning experiences. Studies show  that students who are taught to be mindful are better able to regulate emotions, deal with stress, and improve academic achievement.

Making Learning Meaningful

Learning becomes meaningful when students can see the benefits of what they learn. Teachers can relate learning material to daily life or social trends. For example, in science subjects, students can be invited to solve local environmental problems, such as pollution, with a project-based approach. In this way, learning is more contextual, relevant, and motivates students to think critically.

Creating Joyful Learning

Joyful learning creates a relaxed and collaborative atmosphere. This method involves educational games, the use of creative media, and dynamic group discussions. When students enjoy the learning process, they will be more motivated and creative in finding solutions to the problems they face. For example, teachers can use gamification or interactive games to strengthen understanding of concepts.

Integration of the Three Approaches in the Classroom

To create an optimal learning environment, mindful, meaningful, and joyful learning must be integrated. Teachers can start the lesson with mindfulness exercises, relate the topic to real-life situations, and end the session with a fun activity that summarizes the material. This holistic approach strengthens the  sense of engagement, increases self-confidence, and fosters a love of learning in students. 

Mindful, meaningful, and joyful learning is not only an approach in delivering lesson materials, but also an effective tool to build a learning atmosphere that supports students’ mental health, active engagement, and self-development. By adopting this method, teachers can create a class that is not only informative but also transformative and enjoyable. So, let’s make our teaching and learning process to be mindful, meaningful and joyful.***