School of Universe Gelar Literacy Fair 2025: Luncurkan Konsep GLAM, Wujudkan Literasi Berbasis Alam




BOGOR,-

School of Universe kembali menghadirkan kegiatan tahunan yang paling ditunggu dalam dunia pendidikan berbasis alam dan kreativitas, yakni Literacy Fair 2025 dengan tema “Menjelajah Imaji, Merayakan Literasi: Glamour of Knowledge.”

Kegiatan yang digelar di kampus School of Universe, Sabtu 22 November 2025 ini merupakan wujud nyata komitmen School of Universe dalam menumbuhkan budaya literasi yang holistik, menyenangkan, dan penuh makna. 

Tahun ini, Literacy Fair mengusung semangat GLAM (Gallery, Library, Archive, Museum) sebagai landasan kegiatan, dengan menghadirkan berbagai pameran, pertunjukan, dan aktivitas yang memadukan dunia seni, ilmu pengetahuan, dan alam. 

Literacy Fair semakin lengkap dengan kehadiran tokoh-tokoh literasi nasional dalam talkshow yang dihelat di acara ini. 

Tokoh yang hadir adalah mantan Gubernur DKI Jakarta, H. Anies Baswedan, SE, MPP, Ph.D, Dr. Dewi Utama Faizah (founder Ayo Membaca Indonesia), Dr. Itje Chodijah, MA (Ketua Harian Komnas Indonesia untuk Unesco 2021-2025), dan Dik Doang (Founder Kandank Jurank Doank). 

Ketiga tokoh tersebut menandatangai prasasti Museum Lendo Novo. 

“Setiap prasasti harus mencerminkan karya di tempat itu”, ujar H. Anies Baswedan, SE, MPP,. Ph.D. dan prasasti yang ditorehkan oleh H. Anies Baswedan, SE, MPP, Ph.D. berbunyi: ”Museum ini memang mengabadikan perjalanan hidup karya, pikiran dan imagi seorang Lendo Novo, Di Museum ini juga Inspirasi untuk terus menghidupkembangkan lendo Nove”. 

Tim Publikasi School of Universe, Ahmad Subki menjelaskan, sebagai sekolah alam pertama di Indonesia yang mengimplementasikan GLAM, School of Universe tidak hanya menjadikan perpustakaan sebagai tempat membaca, tetapi sebagai pusat eksplorasi dan dokumentasi pengetahuan yang menghidupkan semangat belajar dari alam, karya, dan pengalaman. 

“Konsep GLAM ini memperkuat fungsi perpustakaan sebagai ruang kolaborasi lintas disiplin dan menjadi wadah bagi siswa, guru, dan masyarakat untuk berbagi ide, cerita, serta inovasi pembelajaran,” katanya.

Melalui GLAM, lanjutnya, perpustakaan di berbagai sekolah alam di Nusantara diharapkan dapat saling terkoneksi — berbagi konten, arsip, karya seni, hingga dokumentasi pembelajaran — sehingga membentuk jaringan pengetahuan yang kuat dan dinamis. 

Dia menegaskan, konektivitas ini tidak hanya memperkaya pengalaman literasi di lingkungan sekolah, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, terutama dalam mendorong budaya membaca, berkarya, dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal.

Salah satu penggagas program dari School of Universe mengatakan, konsep GLAM ini bukan sekadar inovasi pengelolaan perpustakaan, tetapi gerakan literasi berbasis ekosistem yang menumbuhkan kesadaran untuk belajar dari kehidupan dan lingkungan.

Dengan dukungan para pendidik, pegiat literasi, dan komunitas sekolah alam, GLAM diharapkan menjadi model inspiratif bagi sekolah-sekolah lain di Indonesia dalam membangun ruang belajar yang terbuka, relevan, dan berkelanjutan.

Literacy Fair 2025 ini juga menampilkan pameran karya siswa, lokakarya literasi kreatif, serta forum berbagi praktik baik antar sekolah alam. 

Momentum ini menjadi langkah nyata untuk mengokohkan semangat literasi sebagai gerakan bersama menuju masyarakat pembelajar yang berbudaya, sadar pengetahuan, dan mencintai alam.

“Kami ingin menjadikan literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan merasakan, memahami, dan mencipta dari pengalaman hidup,” ujar Nindie Ellesia, selaku Project Manager Literacy Fair. 

“GLAM kami hadirkan agar siapapun dapat mengeksplorasi pengetahuan dan budaya secara utuh, dari buku hingga pengalaman nyata,” tambahnya.

Launching Glam

Pada kegiatan ini, pengunjung diajak menjelajah berbagai zona literasi interaktif, di antaranya:

-Pameran Hasil Karya, tempat karya seni dan tulisan siswa dipamerkan dengan konsep visual yang memikat.

-Launching GLAM, peluncuran GLAM oleh tokoh publik

-Launching Palanta (Museum) Lendo Novo, ruang edukatif yang menampilkan koleksi karya ilmiah, benda alam, dan budaya lokal.

Selain pameran, kegiatan ini juga akan diisi dengan talk show inspiratif, workshop kreatif menulis dan menggambar, pojok mendongeng, serta pentas seni literasi yang menampilkan bakat dan imajinasi siswa dari berbagai jenjang.

Nindi mengatakan, keterlibatan orang tua, guru, dan komunitas juga menjadi bagian penting dalam acara ini. 

Melalui kolaborasi ini, School of Universe ingin menunjukkan bahwa literasi bukanlah kegiatan individual semata, tetapi gerakan bersama yang menumbuhkan empati, rasa ingin tahu, dan semangat belajar sepanjang hayat. 

“Kami percaya bahwa setiap anak adalah penjelajah imaji yang mampu menciptakan semesta pengetahuan sendiri. Tugas sekolah adalah menyediakan ruang yang memungkinkan hal itu tumbuh,” tambah Nindie Ellesia.

Dengan mengusung semangat Glamour of Knowledge, lanjutnya, kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk mengembangkan gerakan literasi yang inklusif dan kontekstual—sejalan dengan nilai-nilai keberlanjutan, budaya, dan kemanusiaan yang diusung School of Universe.*

Oleh: Neneng Indah Permata


Komentar